Persepsi
Sangat mudah bagi manusia untuk dapat
ditipu oleh penampilan. Tidakkah kita sering mengatakan "don’t judge a
book by its cover"? Akan tetapi, masih ada saja orang-orang yang merasa
sulit untuk tidak menilai buku berdasarkan sampulnya saja.
Penampilan yang berkesan, acapkali berbuahkan kesan pertama yang begitu menggoda, vice-versa.
Saat kita memiliki kesan terhadap orang lain, persepsi akan tercipta,
baik positif maupun negatif. Persepsi inilah yang sebenarnya amat
krusial dalam proses sosialisasi manusia di lingkungan sosialnya.
Hubungan baik dan buruk antarmanusia bisa dikatakan tergantung
persepsi dari masing-masing individu terhadap orang lain di sekitarnya. Persepsi ini sendiri dapat juga diartikan sebagai cara manusia memberi penilaian kepada manusia lain. Warna kulit, bentuk fisik, agama maupun asal-usul seseorang merupakan hal-hal yang biasanya mempengaruhi persepsi manusia.
Seperti yang tertera di atas, persepsi seseorang tidak selamanya positif. Ada kalanya dimana persepsi itu berupa penilaian negatif. Persepsi yang cenderung negatif dapat dicerminkan oleh perilaku yang negatif pula. Aku ambil contoh dari persepsi yang biasanya ditujukan kepada orang-orang kulit hitam (no offense buat teman-teman yang berkulit hitam).
Pernah kubaca di salah satu website yang mencantumkan jumlah kejahatan di Amerika Serikat, bahwasanya pelaku kejahatan di sana rata-rata adalah orang-orang berkulit hitam. Tapi aku yakin orang-orang kulit putih juga pasti sering melakukan tindak kriminal. Mungkin saja yang buat website itu orangnya rasis dan tidak suka orang-orang kulit hitam. Bentuk rasisme inilah yang merupakan perilaku negatif alhasil dari sebuah persepsi yang negatif.
Nah, kemarin saat aku dan teman-temanku berada di ruang lecture, ada kejadian yang sangat membuatku kecewa. Salah satu temanku bertindak rasis kepada seorang pelajar yang berasal dari Uganda (daerah Afrika sana). Ketika pelajar Uganda itu bertanya apakah dia boleh duduk di sebelah kami, spontan temanku menjawab "someone is sitting here." Padahal, tidak ada siapa-siapa yang duduk di sebelah kami. Namun setelah itu, ada pelajar yang bukan berkulit hitam ingin duduk di tempat yang sama. Temanku langsung saja mempersilahkan pelajar itu.
Kuajukan tanya pada temanku kenapa dia memberi izin pelajar yang tidak berkulit hitam untuk duduk di sebelah kami tapi tidak buat yang dari Uganda itu. Dengan santai dia menjawab "males gw sebelah orang item, ntar rese lagi!" Gila kataku, tega sekali manusia ini. Apa hak dia menentukan berdasarkan warna kulit?!
Secara tidak langsung, pelajar Uganda tersebut telah menjadi ‘korban persepsi’ temanku. Sungguh mengecewakan.
Wahai umat manusia, jangan biarkan matamu butakan hatimu! Jangan biarkan persepsimu menjadi belenggu jiwamu!
Semoga kita semua bisa bersikap adil dan penuh kasih sayang kepada sesama manusia. Amin.
CHEERS!